Suara panggilan untuk berkontribusi kembali bergema meriah! Gaung Syiar Ramadhan Al-Khairiyah atau yang akrab disebut Syiramah, telah menjadi momen yang dinantikan setiap tahun sejak pertama kali menghiasi langit kampus pada 2011. Angka yang mencengangkan mengiringi perjalanan gerakan dakwah kampus ini – 9.000 peserta terlibat dan 820 masjid telah disinggahi. Bukan sekadar angka statistik yang dingin, melainkan bukti nyata konsistensi yang terus mengakar dan tumbuh subur dari tahun ke tahun.
Pembukaan tahunan yang digelar pada Sabtu (28/2/2025) mengusung makna yang lebih dalam. Ketua Umum Pengurus Besar Al-Khairiyah, KH. Ali Mujahidin atau yang akrab disapa Haji Mumu, dengan tegas menekankan bahwa Syiramah bukan sekadar agenda musiman yang sebatas seremonial.
“Sejak 2011 hingga saat ini, kita sudah memiliki 9.000 peserta dan telah mengunjungi 820 masjid,” ucapnya dengan bangga.
Bagi Haji Mumu, Syiramah adalah wadah yang hidup – sebuah laboratorium sosial di mana mahasiswa tidak hanya menyerap teori di dalam kelas, tetapi langsung terjun ke tengah masyarakat melalui masjid-masjid. Di sinilah karakter mereka ditempa secara langsung.
“Kita melatih diri untuk selalu memberikan manfaat bagi orang lain, sehingga ketika nanti mereka lulus, bisa dengan lancar berinteraksi dengan masyarakat tanpa rasa canggung sedikit pun,” jelasnya dengan penuh keyakinan.

Dari perspektif pembangunan sumber daya manusia, pola pembelajaran seperti ini merupakan investasi jangka panjang yang berharga. Mahasiswa tidak hanya dibekali kompetensi akademik yang solid, tetapi juga kepekaan sosial dan kemampuan komunikasi yang mampu menjembatani berbagai lapisan komunitas.
Kehadiran Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, menjadi sorotan tersendiri dalam pembukaan tahun ini. Ia mengaku sangat bangga bisa kembali berada di lingkungan Universitas Al-Khairiyah, Citangkil, Kota Cilegon.
“Acara ini sungguh luar biasa! Seperti yang kita dengar, agenda ini terus berjalan setiap tahun dengan peningkatan yang signifikan baik dari sisi kualitas maupun kuantitas,” pujinya.
Di depan para civitas akademika, Yandri mengungkapkan potensi luar biasa yang dimiliki Indonesia – sekitar 74 ribu desa dengan beragam kekayaan ekonomi yang menunggu untuk digali. Saat ini, Kementerian Desa tengah gencar mendorong munculnya bibit-bibit pengusaha muda melalui program desa ekspor – sebuah terobosan revolusioner agar produk desa mampu bersaing hingga ke kancah internasional.“Kini, dari desa bisa langsung menjual produknya ke negara tujuan ekspor!” ujarnya dengan semangat.
“Kini, dari desa bisa langsung menjual produknya ke negara tujuan ekspor!” ujarnya dengan semangat.
Ia menyebutkan contoh konkret desa yang berhasil mengekspor gula aren ke berbagai negara seperti Belanda, Malaysia, dan Australia. Menurut Yandri, momentum emas ini harus segera ditangkap oleh kampus. Mahasiswa, tanpa memandang jurusan yang mereka tempuh, didorong untuk berani terjun ke sektor riil dan menjadi motor penggerak ekonomi desa.
“Saya berharap para mahasiswa tidak hanya terpaku pada jurusan masing-masing. Yang paling penting adalah bisa menghasilkan karya dan menciptakan nilai ekonomi. Era sekarang adalah jamannya para pengusaha muda untuk bangkit dan berkarya!” tegasnya.
Tak berhenti sampai di situ, Yandri juga membuka peluang kolaborasi yang konkret antara Kementerian Desa dengan kampus melalui program desa binaan terintegrasi. Mulai dari desa ekspor, desa wisata, desa tematik, hingga pengembangan komoditas seperti jagung, lele, nila, dan ayam petelur – semuanya dipandang memiliki ceruk bisnis yang sangat menjanjikan.

Secara strategis, sinergi ini bisa diperkuat melalui pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pendampingan manajemen yang profesional, hingga kerja sama dengan berbagai lembaga internasional. Dengan demikian, kampus tidak lagi hanya berperan sebagai “menara gading” yang terisolasi, melainkan bertransformasi menjadi mitra aktif dalam mendorong perubahan ekonomi desa.
Di akhir sambutannya, Yandri mengaitkan semangat gerakan Syiramah dengan pesan keagamaan yang abadi tentang pentingnya kebermanfaatan.
“Khairunnas anfa’uhum linnas – sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” ucapnya menutup sambutan dengan penuh makna.
Kini, Syiramah bukan lagi sekadar kegiatan syiar Ramadhan semata. Ia telah menjelma menjadi ruang kolaborasi yang kuat antara tiga pilar penting: dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi desa. Jika diwujudkan secara konkret, sinergi ini berpotensi melahirkan generasi muda yang tidak hanya fasih dalam berdakwah, tetapi juga tangguh dalam membangun desa hingga mampu bersaing di pasar dunia.






